Apakah Desibel Itu?

Desibel adalah suatu ukuran untuk mengukur tingkat kebisingan di sekitar kita

Tahukah anda bahwa polusi suara yang berlebihan ternyata dapat mempengaruhi kesehatan tubuh kita?

Kesehatan kita ternyata tidak hanya bisa terganggu oleh serangan penyakit saja, tetapi polusi suara yang berlebihan pun dapat mengganggu kesehatan kita. Ia dapat mengganggu konsentrasi yang berimbas pada produktivitas kita. Menimbulkan gangguan pendengaran, tekanan darah tinggi dan bahkan bisa berimbas kepada sistem pencernaan kita (stress), gangguan tidur, peningkatan denyut jantung dll.

Tentunya ini tidak bisa dianggap remeh juga, siapa sih yang mau sakit?

Nah ilmu yang mempelajari tentang keras lemahnya suara disebut akustik. Dengan mengenal akustik maka kita akan tahu bahwa tingkat kebisingan dapat diukur dalam satuan yang disebut desibel.

Pengukuran desibel ini tidak seumum satuan ukur lainnya seperti meter, kilo dll, yang kebanyakan orang sudah ketahui. Toh memang dia jarang digunakan dan hanya pada kasus tertentu saja maka ukuran desibel ini dipakai.

Cara mengukur intensitas suara dengan desibel

Untuk mengukur desibel diperlukan alat ukur suara, bukan meteran atau timbangan seperti satuan lainnya.

Penemu ukuran kebisingan ini adalah Graham Bell, dan oleh karena penemuannya ini maka nama belakangnya ikut disisipkan dalam nama satuan desibel tersebut. Skala logaritma dalam pengukuran desibel mengacu kepada rasio intensitas pendengaran yang dapat didengar oleh telinga manusia.

Pengukurannya dimulai dari 0 desibel atau setara 10-12 watt/m2. Bila ada suara yang lebih rendah dari nilai tersebut maka kita tidak dapat mendengarnya. Tetapi bila intensitas suara tersebut mencapai frekuensi 1000 Hz maka sebaliknya, telinga manusia akan merasakan kesakitan.

Telinga kita mampu mendukung hingga 120 dB. Diatas nilai ini maka kebisingan tersebut akan menjadi berbahaya dan dapat merusak struktur telinga dalam manusia, dan bisa bersifat permanen, tidak dapat disembuhkan.

Tetapi tidak hanya 120 dB, apabila kita terpapar kebisingan diatas 90 dB selama lebih dari 4 jam juga sudah dianggap sangat berbahaya.

WHO menetapkan nilai 55 dB sebagai nilai maksimum yang dianggap ideal untuk keseharian kita. Menurut mereka, dari hasil penelitian diketahui bahwa di wilayah Uni Eropa sendiri, 20% dari populasinya mengalami paparan kebisingan yang sudah mencapai 65 dB (siang hari) dan lebih dari 30% terpapar diatas 55 dB pada waktu malam.

Nah sekarang, keras suara dalam desibel ini seperti apa sih?

Sebuah percakapan normal pada manusia bisa masuk dalam kisaran 60 desibel. Padahal kita tahu WHO sendiri mematok pada 55 dB -_-

Tapi ini bisa jadi patokan penting agar kita membayangkan nilai tersebut, lainnya adalah sbb; suara nafas orang yang normal masuk dalam kisaran 10dB, bisikan lembut 30 dB dan suara air hujan yang santai 50 dB.

Selanjutnya mulai dari 60 dB kita harus mulai berhati-hati karena sudah mulai masuk ke dalam tingkat kebisingan yang keras. 85 dB setara dengan kebisingan pada jalanan yang macet, 110 dB setara dengan suara tangisan bayi yang keras disebelah kita dan 120 dB adalah sama dengan intensitas keras suara pada halilintar.

Lihat tabel berikut untuk referensi lebih lanjut;

Nah jadi seperti itulah kira-kira pengukuran keras lemahnya suara dengan menggunakan pengukuran desibel, semoga dengan mengetahui hal ini kita bisa lebih awas akan suara yang ada di sekitar kita, apakah dia masuk kedalam ukuran yang nyaman ataukah tidak, bila tidak maka sebaiknya kita menghindari terpapar atau berlama-lama dekat dengan sumber kebisingan suarat tersebut.

Demikian posting kali ini mengenai apa itu desibel dan keseteraannya.

Disadur/diterjemahkan kembali dari berbagai sumber di internet. Semoga berguna, salam.

Terima kasih telah berkunjung – Arginuring Arsitek, jasa desain arsitek di bandung