Bangunan Terbaik Tempo Doloe hingga Era Arsitek Bandung Sekarang

arsitek bandung

Berbagai bangunan jaman kolonial yang dikagumi sampai masa arsitek Bandung modern saat ini

Mengapa banyak bangunan peninggalan era kolonialisme Belanda di Bandung

Iklim kota Bandung yang sejuk membuatnya menjadi salah satu lokasi favorit bagi kolonial Belanda pada jaman perjuangan kemerdekaan di Indonesia, sehingga tak heran banyak kita dapati bangunan peninggalan bersejarah ataupun bangunan cagar budaya arsitek Bandung tempo doloe disini.

Bangunan arsitek Bandung bersejarah

Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan bagian dari sejarah kota Bandung pada jaman kemerdekaan dulu. Dari peristiwa tersebut maka kita bisa memahami betapa lekatnya Bandung dengan keberadaan berbagai bangunan bersejarah di Indonesia.

Beberapa bangunan tersebut adalah:

Gedung Sate
arsitek bandung

Gedung ini merupakan gedung yang paling ikonik di kota Bandung, memiliki ciri khas ornamen yang menyerupai tusuk sate pada menara pusatnya. Banyak orang yang menganggapnya sebagai tusuk sate, walau begitu ada pula pendapat ke dua yang menyatakan bahwa itu sesungguhnya adalah simbol untaian bunga pada telinga wanita yang terdapat pada dandanan tradisional saat itu.

Dibangun pada tahun 1920 dan masih berdiri kokoh sampai sekarang. Suatu bukti pencapaian kualitas dari arsitektur Belanda yang bahkan masih sangat diakui hingga jaman arsitek Bandung modern jaman now.

Gedung Sate mulanya difungsikan untuk kegiatan gedung pusat Pemerintahan Jawa Barat – Gouvernements Bedrijven (GB). Gedung Sate ini diperuntukkan bagi Dinas Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum, kemudian setelah Batavia dianggap tidak lagi layak sebagai pusat pemerintahan maka ia berubah fungsi menjadi bangunan Pemerintahan Hindia Belanda.

Pada tanggal 3 Desember 1945, terjadi insiden yang menewaskan tujuh orang pemuda yang mempertahankan Gedung Sate dengan gagah berani dari serangan Tentara Gurkha. Untuk mengenang jasa tujuh pemuda itu, didirikan tugu batu di belakang pelataran Gedung Sate. Kemudian akhirnya tugu tersebut lalu dipindahkan ke lokasi baru di halaman depan Gedung Sate.

Museum Mandala Wangsit

Museum Mandala Wangsit Siliwangi, gedung ini dibangun pada masa penjajahan Belanda tahun 1910-1915, dengan menganut gaya arsitektur Romantisisme dan merupakan fasilitas tinggal perwira Belanda.


Romantisisme (era Romantis) adalah gerakan seni dari Eropa pada akhir abad ke-18. Lalu kemudian di sebagian besar wilayah mencapai puncaknya pada periode perkiraan 1800 hingga 1850. Suatu gaya arsitektur yang sangat berbeda dengan gaya arsitek Bandung kekinian, dimana minimalis modern sangat diminati.


Selanjutnya gedung ini digunakan oleh mereka untuk bersembunyi dari Jepang ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942.

Gedung ini kemudian dignakan oleh Pasukan Siliwangi dan dirubah fungsinya menjadi markas Divisi Siliwangi (Akademi Militer Bandung) setelah jaman kemerdekaan, yaitu pada tahun 1949-1950.

Pada tanggal 23 Mei 1966, fungsi gedung tersebut diubah menjadi Museum dan diresmikan oleh Panglima Divisi 8 Siliwangi, Kolonel Ibrahim Adjie. Pada tahun 1979, gedung tersebut direhabilitasi dan menjadi gedung berlantai dua.

Diresmikan tanggal 10 November 1980 oleh Pangdam 15 Siliwangi, Mayjen Yoga Sugama dengan prasasti di tanda tangani oleh Presiden Soeharto.

Museum ini berisi:

  • Koleksi perlengkapan senjata Pasukan Kodam Siliwangi dari senjata tradisional sunda hingga senjata modern
  • Persenjataan selama Perang Kemerdekaan Indonesia selama Pendudukan Jepang
  • Galeri lukisan yang menggambarkan romusha atau kerja paksa selama pendudukan Jepang
  • Kumpulan foto peristiwa kebakaran dan keracunan Samudera Bandung pada 17 Februari 1949
  • Koleksi bedok (pakaian) yang digunakan oleh Ki Hadjar Dewantara
Monumen Bandung Lautan Api
arsitek bandung

Monumen ini dibangun untuk mengenang Bandung Lautan Api – 23 Maret 1946. Peristiwa ini diawali dengan ultimatum pasukan sekutu agar Tentara Indonesia (sekarang TNI) meninggalkan Bandung.

Selain itu, mereka juga ingin seluruh warga Bandung di luar TNI dan BKR menyerahkan senjata. Warga Bandung menganggap ini sebagai penyerahan tanpa syarat.

Komandan Divisi III Siliwangi waktu itu, AH Nasution mengobarkan semangat perlawangan dengan cara membakar Bandung Selatan. Seluruh warga Bandung Selatan dengan semangat patriotisme ikut serta membakar wilayah mereka lalu beramai-ramai meninggalkan Bandung.

Pada proses pembakaran tersebut terjadi pula pertempuran yang cukup sengit, terutama di daerah Dayeuhkolot. Dalam peristiwa ini, dua orang pejuang tewas saat meledakkan gudang amunisi, yakni Moh. Toha dan Moh. Ramadhan. Naman keduanya kini menjadi nama jalan di wilayah Tegal Lega, Bandung.

Gedung Merdeka

Gedung Merdeka Kota Bandung berlokasi di Jalan Asia Afrika No. 65. Bangunan ini dulunya adalah toko milik warga keturunan Tionghoa. Toko ini dibeli dan diperluas pada tahun 1895. lalu direnovasi pada tahun 1921.

Arsitek yang melakukan desain renovasinya adalah Van Gallen Las dan CP Wolff Schoemaker

Pada saat itu, gedung ini menjadi tempat pertemuan “super club” termewah, lengkap, eksklusif, dan modern, berkapasitas hingga 1.200 tamu.

Gedung baru dibangun pada tahun 1940 di sisi timur gedung lama oleh arsitek Ir. AF Albers.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung beralih fungsi menjadi pusat kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso) dan balai pertemuan (Dai Toa Kaikan). Setelah Indonesia merdeka, gedung ini kembali menjadi balai pertemuan umum.

Gedung Merdeka dulunya bernama Gedung Societeit Concordia, kemudian dirubah oleh Presiden Soekarno merubah namanya menjadi Gedung Merdeka pada tanggal 7 April 1955. Penamaan gedung ini dilatarbelakangi oleh semangat perjuangan mencapai kemerdekaan Asia – Afrika yang masih terjajah.

Museum Konferensi Asia Afrika
arsitek bandung

Sejarah Museum Asia Afrika di Bandung tidak terlepas dari pemikiran Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, SH, LL.M.

Ketua Harian Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika (Joop Ave), Dirjen Protokol dan Konsuler Kemlu, Kempen, Kemdikbud, Pemerintah Daerah Tingkat I Barat Provinsi Jawa, dan Universitas Padjajaran bekerja sama untuk merealisasikan pendirian museum tersebut.

Benteng Pasir Ipis

Membentang hingga hampir 1 Km, Benteng Pasir Ipis berada di Kampung Pasir Ippis, Kabupaten Bandung. Benteng ini dibangun pada tahun 1891 – 1930

Sebagian besar bangunan benteng telah terkubur di tanah dan pepohonan. Bagian tubuh benteng sudah tertutup lumut. Fasilitas yang tersedia di Benteng Pasir Ipis kurang memadai karena tidak banyak yang memperhatikan peninggalan Belanda ini.

Gedung Kolongdam

Dulunya bernama Jaarbeurs de Bandung -1920. Pertama kali diadakan pada tanggal 20 Mei – 3 Juni 1920 kemudian rutin dilanjutkan setiap bulan Juni dan Juli.

Gedung ini di desain oleh Wolff Schoemaker, yang merupakan arsitek ternama Hindia Belanda. Ia menyematkan gaya art deco dan gaya arsitek Frank Lloyd Wright.

Kompleks bangunan dan pendoponya kini digunakan sebagai Markas Besar Pendidikan dan Komando Daerah Militer III/Siliwangi.

Gedung Indonesia Menggugat

Dinamakan sesuai judul pidato pembelaan Sukarno yang berjudul Indonesia Menggugat (Indonesie Klaagt Aan). Ia membacanya sendiri di salah satu ruangan di Gedung Indonesia Bersuat dalam sidang politiknya pada tahun 1930.

Lokasi, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5 Kota Bandung.

Pada masa kolonial, gedung ini berfungsi sebagai gedung majelis hukum kolonial Belanda. Awal mulanya bangunan ini difungsikan selaku rumah tinggal. Gedung ini diganti jadi Gedung Majelis hukum Negara Belanda( Landraad) sehabis direnovasi dari kejadian kebakaran.

Dikala itu, gedung ini diketahui dengan nama Den Landraad Te Bandoeng. Gedung ini sempat jadi kantor Palang Merah Indonesia pada periode 1947- 1949. Berikutnya pada tahun 1950- 1970, gedung ini jadi Kantor Urusan Keuangan Negeri. Sampai difungsikan kembali selaku Kantor Metrologi sepanjang nyaris 3 dekade.

Hingga akhirnya pada tahun 2002 wacana ini diakhiri dengan penandatanganan prasasti oleh Gubernur Jawa Barat, Ketua Umum Paguyuban Pasundan, dan Presiden Indonesia Megawati.

Masjid Agung Bandung
arsitek bandung

Didirikan pada tahun 1810 dan sudah melalui beberapa kali renovasi, 8 kali pada abad ke- 19 lalu 5 kali pada abad ke- 20 dan terakhir pada tahun 2001

Proses pembangunan dan penataan kembali alun-alun Bandung dan kawasan Masjid Raya dinyatakan selesai pada 13 Januari 2004. Hal ini bertepatan dengan perubahan nama dari Masjid Raya Bandung menjadi Masjid Raya Bandung di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Konvensi Landmark

Landmark Convention Building sudah ada sejak tahun 1922. Gedung ini telah berdiri sejak tahun 1922. Desain bangunannya dirancang oleh CP Wolff Schoemaker, digunakan sebagai toko buku dan juga percetakan Van Dorp.

Sempat berubah menjadi bioskop pada sekitaran tahun 1970-an, lalau kembali menjadi gedung serbaguna yang dikenal dengan nama Landmark Convention Center. Gedung ini menjadi tempat penyelenggaraaan berbagai macam acara, pernikahan hingga pertunjukan kontemporer buku dan seni.

Stasiun Bandung

Peresmiannya dilakukan pada 17 Mei 1884 di jaman Bupati Koesoemadilaga, idenya berawal dari pembukaan Stasiun Bandung diresmikan pada 17 Mei 1884 pada masa Bupati Koesoemadilaga , ide awalnya dibangun karena terilhami pembukaan perkebunan di Bandung sekitar 1870.

Pada tanggal 6 April 1925, diresmikan sebuah monumen di depan pintu masuk selatan stasiun yang dinamakan Tugu Purwa Aswa Purba. Bangunan ini merupakan hasil desain dari arsitek Ir. EH de Roo, ditujukan untuk memperingati 50 tahun Staatsspoorwegen (SS) ada di Tanah Jawa

Selanjutnya, Ir. EH de Roo juga menggantikan arsitektur Stasiun Bandung. Salah satu alasannya adalah dekorasi kaca patri di platform selatan bergaya art deco.

Koran Belanda, Javabode, menulis kalau warga dekat merayakannya sepanjang 2 hari berturut- turut pada peresmian Stasiun Bandung.. Peron utara akhirnya dibentuk serta dijadikan bagian depan stasiun di Jalur Kebon Kawung pada tahun 1990.

Gedung Pakuan

Pembanguann Gedung Pakuan menurut Gubernur Jenderal Ch.F. Pahud karena adanya pemindahan ibu kota Karesidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung.

Proses pemindahan dilakukan saat Resident Van der Moore menjabat pada tahun 1864. Desain bangunan ini dirancang oleh Chief Engineer Departemen Burger Burger Openbare Werken (BOW), selaku staf Resident Van der Moore

Bangunan ini semenjak era Hindia Belanda sudah jadi surga untuk orang- orang berarti, tamu formal, serta pemimpin dunia. Saat Hindia Belanda tempat ini menjadi kediaman formal Residen Priangan sedangkan saat ini Gedung Pakuan sudah berubah fungsi menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Barat.

Monumen Perjuangan Jawa Barat (Monju)

Bangunan monumen ini berfungsi sebagai Museum Sejarah Perjuangan Rakyat Jawa Barat yang disahkan pada masa Gubernur Jawa Barat (R. Nana Nuriana), 23 Agustus 1995.

Posisi monumen ini menghadap Gedung Sate serta di depan Universitas Padjajaran. Berupa monju mempunyai model bangunan berupa bambu runcing yang dipadukan dengan style arsitektur modern.

Monumen ini mempunyai 7 diorama di ruang pameran permanen, suatu relief yang menggambarkan sejarah perjuangan warga Jawa Barat dari masa kerja buat mempertahankan kemerdekaan, ruang bibliotek, serta ruang audiovisual. Monju pula dilengkapi dengan taman yang luas, mushola, serta wc yang aman untuk wisatawan.

Pranala lainnya: Jasa arsitek rumah Bandung

Villa Isola Bandung
arsitek bandung

Villa Isola saat ini digunakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia( UPI). Bangunan ini pula memakai style arsitektur art deco dan berada di pinggiran kota Bandung.

Villa ini didirikan pada tahun 1933 oleh seseorang jurnalis Belanda yang bernama Dominique Willem Berretty dengan atas desain dari Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Bangunan elegan ini digunakan untuk tempat tinggal sampai akhirnya dijual serta menjadi bagian dari hotel Savoy Homann. Lalu akhirnya berubah fungsi hingga sekarang menjadi kantor rektorat Gedung UPI.

Monumen Husein Sastranegaranegara

Monumen Husein Sastranegara berdiri kokoh di Jalan Pajajaran dekat gapura yang bertuliskan Pangkalan TNI AU Husein Sastranegara. Patung ini dibuat untuk mengingat jasanya, yang merintis TNI AU bersama lainnya, yaitu: Agustinus Adisucipto, Halim Perdanakusuma, Abdulrahman Saleh, dan Iswahyudi.

Husein meninggal di usia 27 tahun saat melatih pesawat Cukiu yang jatuh di Desa Gowongan Lor, Yogyakarta. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama Bandara Internasional dan Pangkalan Udara Husein Sastranegara berdasarkan Surat Keputusan No. Rasau. 76 tahun 1952.

Akhir

Nah demikian postingan kali ini mengenai bangunan terbaik tempo doloe hingga jaman arsitek Bandung kekinian. Semoga bisa menjadi pencerahan bagi Anda dan kita semua 🙂

Lihat juga postingan lainnya mengenai:

Lihat kolonialisme – Wikipedia

Disadur/diterjemahkan kembali dari berbagai sumber di internet. Semoga berguna, salam.

Terima kasih telah berkunjung – Arginuring Arsitek, arsitek di kota Bandung

Author: Argi Nuring

Jasa arsitek di Bandung untuk desain rumah tinggal modern dan minimalis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *