Optimasi Potensi Lahan Pada Desain Arsitektur Yang Berkelanjutan, 1 Dari 3

desain arsitektur yang berkelanjutan dimulai dengan pemilihan lahan yang tepat

Optimasi Potensi Lahan Pada Desain Arsitektur Yang Berkelanjutan, 1 Dari 3

lokasi bangunan bisa berpengaruh pada faktor lingkungan, juga faktor-faktor lainnya seperti keamanan, aksesibilitas, pemakaian energi dll

lokasi lahan bagi desain yang berkelanjutan

memilih dan menentukan lokasi sangat penting pada tahap awal proses mendesain arsitektur berkelanjutan. tujuannya agar dapat mengurangi dampak negatif bagi lingkungan bangunan tersebut. misalnya dengan menggunakan atau penggunaan kembali struktur dan infra struktur yang telah ada, sehingga tidak menambah kerusakan lingkungan berikutnya. lalu yang tidak kalah pentingnya, pihak yang kedapatan memilih lokasi proyeknya juga harus mengerti masalah pada desain perencanaan lahan yang berkelanjutan ini.

malah jika memungkinkan, pilih lokasi di area yang memang sedang dikembangkan, dimana infrastrukturnya jelas sudah terbangun dan pertimbangkan untuk menghemat material dengan cara merenovasi bangunan yang sudah ada, bahkan termasuk properti peninggalan sejarah sekalipun. misalkan konsep pemikirannya sudah baik seperti ini, maka pemilik bangunan, arsitek dan kontraktor bisa bersama memaksimalkan hasil restorasi tapak/lingkungan dan infrastruktur bangunannya sekaligus membahas keperluan proyek lainnya.

acuan bagi desain lahan yang berkelanjutan

perencanaan lahan berkelanjutan biasanya mengacu kepada butir-butir dibawah ini:

  • minimalkan pengembangan lahan terbuka baru dengan cara memilih area/kawasan yang masih  membutuhkan/masih bisa diperbaiki, penggunaan kembali area terbengkalai dan peremajaan bangunan yang sudah ada.
  • menyediakan area/akses bagi kehidupan alam liar/alami dan bila memungkinkan sekaligus sengaja dipersiapkan, seperti pada area kampus atau fasilitas publik berskala besar.
  • pertimbangkan implikasi eksploitasi energi dan emisi karbon pada saat pemilihan lahan, orientasi bangunan dll.
  • pengendalian erosi dengan cara meningkatkan gradasi pada lahan dan mempraktekan ilmu-ilmu desain lansekap.
  • gunakan tanaman asli dari lingkungan tersebut, kurangi penggunaan tanaman yang asing dari luar.
  • minimalkan gangguan pada habitat yang ada.
  • mengembalikan kealamian dan kesegaran lokasi yang telah terdegradasi, dengan cara memperbaiki kualitas habitat spesies asli melalui penghijauan kembali tanaman asli, vegetasi yang sesuai dan memang mampu beradaptasi dengan iklim disana.
  • desainlah agar perletakan bangunan pada lahan masih dalam jarak tempuh berjalan kaki yang nyaman, terhadap pertokoan dan pusat layanan kegiatan, khususnya toko-toko kelontong.
  • desainkan juga solusi bagi berbagai penggunaan alat transportasi, dari mulai jalur pejalan kaki, sepeda (dan parkirnya, jangan lupa), jalur kendaraan bermotor, roda dua, empat dan umum.
  • pertimbangkan juga untuk masalah keamanan pada lahan tersebut, seperti pembatas jalan, lampu penanda dan pengarah dll.
  • jalin kerja sama erat dengan desainer tata cahaya untuk mengoptimalkan penggunaan lampu dan mengurangi polusi pencahayaan.

akhir tulisan bagian 1

demikian posting kali ini mengenai optimasi lahan pada desain arsitektur yang berkelanjutan (sustainable architecture/sustainable land)

selanjutnya bersambung ke bagian 2

terima kasih telah berkunjung, arginuring arsitek, jasa desain arsitek di bandung